Sabtu, 25 Desember 2010

Vendetta untuk Elit Indonesia

Malam itu malam pertamanya melacurkan diri. Menjajakan dirinya demi sesuap nasi dan menawarkan kehangatan tubuhnya pada setiap lelaki iseng yang masih bergentayangan dijalan. Ia mendapatkan calon pasien pertamanya yang dengan tidak sengaja ternyata adalah anggota 'The Fingers'. Aparat keamanan negeri otoriternya yang siap menghukum dengan semena-mena siapapun yang tidak melaksanakan hukum sesuai dengan penafsirannya.

Namun malam itu ia beruntung. Sesosok pahlawan dengan topi tinggi dan topeng tersenyum menolongnya. Menghabisi 'The Fingers' dengan sekali gerakan dan mengajaknya bersembunyi diatas atap sebuah gedung. Hanya untuk melihat gedung parlemen London yang hancur berkeping-keping dari kejauhan. Hari itu 5 November adalah hari dimulainya Vendetta bagi pemerintahan yang otoriter.

Tetapi tenang saja! ini bukan kejadian nyata. Ini hanya kejadian didalam Novel Grafis karangan Allan Moore dan David Lloyd yang berjudul V for Vendetta. Bercerita tentang sesosok pahlawan korban kamp konsentrasi yang mendapatkan pencerahan melawan pemerintahan yang otoriter. Ia membebaskan rakyat Inggris yang terkungkung ketakutan dan memberi mereka napas baru untuk melawan.

Namun anda tidak akan melihat sosok 'V' --jagoan dalam novel grafis ini-- sebagai sosok kekar dan macho dengan wajah keras seperti Clark Kent superman. Namun anda akan melihat sosok 'V' memakai pakaian kstaria abad pertengahan dan topeng aneh yang selalu tersenyum. Sosoknya seperti menjadi pantomin dalam drama troubador. Ia pun mendengarkan musik klasik dan membaca banyak buku drama dan puisi-puisi penyair Inggris. Novel grafis ini meneror pikiran anda bukan saja dengan penampilan tokohnya dan ide dibalik ceritanya. Tetapi juga akan merubah persepsi anda tentang seorang tokoh jagoan yang seharusnya muncul dalam setiap komik.

Sama seperti komik Asterix yang saya baca sewaktu kecil. Sosok pahlawan Galia fiktif ini berani menantang kekuasaan Julius Caesar yang adalah seorang tokoh sejarah non-fiktif. Komik yang diciptakan pleh Gosciny dan Underzo ini terilhami oleh Vicigentorix, seorang pahlawan Perancis kuno yang dulu dinamakan Galia --daerah galia lebih luas dari Perancis modern saat ini, meliputi Perancis, Luxemberg, Belgia.
Asterix digambarkan bukan sebagai seseorang yang kekar dan bergaris muka keras namun sebaliknya ia digambarkan pendek dan mempunyai kumis khas eropa kuno. Temannya Obelix --seorang pandai batu-- malah digambarkan gembul dan terlihat lamban.
Namun mereka berdua dapat melawan kekuatan dan kelicikan romawi berkat bantuan ramuan dari dukun panoramix.

Seolah-olah kita diajarkan bahwa tidak harus perkasa dan hitam putih untuk menjadi pahlawan. Kita diajarkan bahwa kekonyolan dan parodi pun dapat menjadi tokoh pahlawan dalam dunia fiksi.
Kita tidak lagi memandang kekuatan perlawanan sebagai sesuatu yang tetap dan berbentuk organisasi yang radikal. Perlawanan dapat berbentuk individu dan inisiatif.
Kita telah biasa menunggu pahlawan untuk melakukan perubahan bagi kehidupan kita. Seperti seseorang yang menunggu godot yang tak pernah datang. Kita pasif dan meminta perbaikan bagi diri sendiri oleh orang lain.

V for Vendetta dan Asterix mengajarkan kita bahwa tidak ada kekuasaan otoriter yang tidak dapat dilawan. Hati nurani dan akal sehat harus dimulai dari kita sendiri dan sekarang. Tidak ada lagi ratu adil, ksatria piningit atau godot.
Kita sendiri yang harus melawan wacana-wacana basi yang terus menerus digulirkan para elit politik negeri ini. Kita sendiri yang harus berkata stop untuk diskusi berkepanjagan tentang siapa yang layak diberi gelar pahlawan. Kita sendiri yang harus menghentikan segala adu domba antar etnis, agama atau kelompok kepentingan hanya untuk keuntungan segelintir pihak.

Kita telah cukup mempunyai amunisi untuk melawan kebusukan-kebusukan yang dilakukan elit negeri ini. Dan kita akan mempunyai lebih dari cukup ketika kita melihat hati nurani dan akal sehat kita.
Kini saatnya kita bekerja untuk sesuatu yang dapat membangun negeri ini. Bukan pertentangan yang hanya membela sekelompok orang.
Saatnya kita melakukan pembalasan!

Semut dan Walet

Aku bertemu dengannya diujung senja dibulan november
Ketika Ia menangis rapuh setelah sayapnya dikoyak prahara
Tersandar lemah Ia menatapku sayu lalu berkata,

"Kita separuh perjalanan
namun tak lagi tahu
mana utara, mana selatan"

Seperti matahari yang membelakangi
pada siapa kita dapat bertanya

Kau pengembara
padahal aku pengelana

Berdua mencari jalan pulang

Teman khayalan

percuma...
Ia tidak akan kembali,,,
memanggang rumput atau menjemur ikan....
percuma...
Ia memang tidak ada....

Pikiran kanak-kanakmu menciptakannya
Ijaminasimu membuatnya hidup
namun kau tak tahu itu
percuma....
Ia bukan siapa-siapa,,,,,

Pertama kau pikir Ia tetanggamu
lalu kau buat jadi saudara kembarmu
terakhir ia seperti malaikat penjaga
percuma...
Ia tidak akan kembali,,,

Minggu, 21 November 2010

Je pense! We get confuse!

You have alot of choice 
When you don't have a brain 

If you have brain 
Then you won't choose... 
You start confuse! 

Me bury determinism a long time ago... 

And what's left is a curse 

We have hope 
We have faith 
But we don't have the truth.... 

We have the path 
We through the road 
But have we taking the right way? 


You won't choose... You start confuse 
because we have brain!



:Edisi Terbatas


Perasaan adalah permainan
Seperti bola-bola warna-warni
Yang kau beri padaku kemarin
Kau suruh aku memilih
Apapun yang kupilih
Kau bilang hanya sementara

Informasi adalah kemungkinan
Guratan-guratan cahaya
Yang menari diatas sebuah benda
Kadang terlihat kadang sirna
Mengagungkan yang tenang nan bijak
Atau membunuh yang fanatik

Raga hanya meneruskan
Jiwa memutuskan…
Materi berubah
Ide tetap hal baru…
Selalu…

Kita yang tak abadi
Dibatasi oleh yang abadi

Untuk memahami
Betapa tidak abadinya kita



Hegel dan Teror

Ia berdiri diatas lapangan pembantaian
melihat waktu terwakili pada jam tangan

Tidak ada yang dapat membayar semua ini
kesedihan, kehilangan, penyesalan

Sebuah mawar yang mempunyai senyum tersudut menghampiri...

"Inilah kepahitan yang Tuan Hegel janjikan.
Siklus yang berganti dan terganti."

"Oh Izrail kau yang menunggu dibawah pohon,
maukah kau mengabaikan daunku?
Tugas belum jua selesai bagiku."

Ia gantungkan keinginan terakhir ditralis jeruji
Perasan airnya menetes membasahi kaki
Namun itu kumis masih menyungging senyum




9/11 - 2007

Amozi, Imam Samudra, Ali Gufrin di eksekusi tgl 9 nov 2008 tepat pukul 00.00
setahun setelah puisi ini dibuat....

Kota dan Pejuang

Sebuah kota adalah semangkuk salad dengan isi...
Hijau harapan, kuning kecemasan dan merahnya emosi

Disiram dengan saus intrik dan taktik

Pedasnya bisa untuk menambah...
atau menyerah


Seperti juga keyakinan bisa membuta
Logika kadang tak membawa kemana-mana

Kota adalah medium pemimpi
Tapi kebanyakan dimimpi

Kota adalah konvergensi
bagi yang tenang

Kota juga fragmentasi
tuk yang tak mengerti

Kota adalah sebuah tanda



4/3 - 2007