Minggu, 21 November 2010

Renungan Saung - Fundamentalis vs. Toleransi

Fundamentalisme menjadi semacam kanker didalam kehidupan beragama awal abad ini. Walaupun fundamentalisme telah ada sejak berabad-abad yang lalu dan fundamentalis bukanlah milik atau menjadi ciri khas salah satu agama saja. 

Florens, Itali di abad ke 15 menjadi saksi buah kekerasan para fundamentalis. Florens diabad itu menjadi semacam etalase kehidupan hedonis sekaligus kemajuan seni dan ilmu pengetahuan. Seni-seni mencapai puncaknya dalam mengeksplorasi erotisme tubuh manusia dan menggiring khayalan dalam bab-bab buku Tantri. Ilmu pengetahuan membuka pemahaman baru pada semesta sehingga beberapa orang mempunyai cukup alasan untuk menjadi agnotis atau ateis sekalipun. 
Setiap hari di Florens saat itu adalah pesta pora. Orgi menjadi semacam peribadatan cabul, three-some menjadi aktivitas interpersonal biasa dan lesbian-gay adalah variasi. Semua orang melakukan seks semata untuk eksplorasi. moral benar-benar diuji dalam batas yang belum pernah ditemui umat manusia setelah sodom-gomorah. 
Lalu tiba-tiba datang seorang pastur dominican bernama Girolamo Savonarola. Ia muak dengan keadaan amoral yang dialami italia saat itu. Ia menawarkan bentuk baru kehidupan transedental. Kehidupan yang sadar akan kehidupan lain setelah itu. Mengingatkan lagi orang Itali akan Tuhan dan kebenaran tunggal. 
Dalam sekejap Savonarola mempunyai banyak pengikut. Beberapa orang yang juga telah muak dengan amoral itali siap berada dibarisan belakang mendukung kembalinya Italia menjadi Kota Tuhan. 
Sebuah kota yang hanya menerima satu kebenaran tunggal yang sesuai dengan intruksi wahyu Tuhan. 

Dan Florens berubah 180' saat itu juga. Para hedonis dirajam, Ilmuwan dikucilkan, Seniman di eksekusi, buku-buku sastra dan sains dibakar karena dianggap anti Tuhan dan mengajarkan keduniawian. Karya seni dikumpulkan dan ditumpuk ditengah lapangan kota untuk dibakar tengah malam. Semua orang terbawa dalam histeria dan saling menganggap orang lain yang tidak setuju sebagai anti Tuhan dan wajib dieksekusi. 
Girolamo rules! Ia memegang kunci kebenaran tunggal saat itu dan Itali untuk pertama kalinya mengenal fundamentalisme. Ia berkuasa selama empat tahun hingga akhirnya cerita berbalik dan Ia pun dieksekusi oleh para penentangnya. 
Hingga saat ini kejadian pembakaran ditengah lapangan kota masih diperingati dalam bentuk lain. Di Amerika mengenal Mardi grass dan burning man. sebuah bentuk acara festival yang terinpirasi dari kejadian tersebut. 
Hingga saat ini pun beberapa orang masih merasa memegang kunci kebenaran tunggal dan melihat dunia melalui kacamata hitam putih mereka. 
Saat ini beberapa orang masih merasa mempunyai legitimasi untuk mencabut nyawa orang lain yang dianggap diluar 'kebenaran'. Seolah-olah hidayah adalah wewenang tunggalnya. Orang lain dianggap tidak akan mungkin dianggap mendapat hidayah seperti dirinya. 
Ataukah mereka lupa bahwa penentang Nabi Muhammad S.A.W yang paling keras seperti umar bin Khatab r.a atau Amir bin Ash pun dapat berbalik menjadi pendukungnya paling setia. 
Semoga mereka tidak lupa.... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar